Showing posts with label Curhat Indahjuli. Show all posts
Showing posts with label Curhat Indahjuli. Show all posts

Thursday, December 13, 2007

Tentang Mainan dan Tas


Nama tempatnya SKI atau Sumber Karya Indah Katulampa di kawasan Banterkemeng, Bogor, Jawa Barat. Tapi tempat ini lebih dikenal dengan T A J U R.

Di lokasi ini, ada tempat permainan untuk anak-anak seperti flying fox, wahana ikan, mobil-mobilan atau ayunan. Ibu-ibunya yang nganterin anaknya bermain ngak bakalan bete, karena waktu anak main, kita bisa thawaf ke lokasi lainnya (tapi masih ditempat yang sama), buat belanja belanji tas...he...he... suka kan.

Kalau untuk permainan flying fox, bayar Rp 20 ribu untuk dua kali main. Sementara mobil-mobilan, Rp 30 ribu, untuk 10 menit.

Kalau tas-tasnya, banyak modelnya, dari tas tangan, tas kerja, koper sampai tas anak sekolah. Harganya juga variasi, ada yang murah sampai paling mahal. Relatif deh. Buruan deh kesana, mumpung bulan ini banyak hari libur...he...he...kompor meleduk.com

Wednesday, May 16, 2007

Berbagi Cerita


Disuatu majalah wanita yang tiap hari Senin beredar, saya membaca tentang kekuatan pertemanan, hal yang selama ini sering saya anggap enteng.



Kenapa enteng ? Karena saya tipe orang yang takut menjalin hubungan akrab dengan orang/seseorang. Saya takut kalau sudah terlampau dekat, tiba-tiba terjadi perselisihan yang mengakibatkan retaknya hubungan. Saya takut, kalau saya dekat dengan seseorang, ketika mereka pergi, saya akan sangat merasa kehilangan. Bukan apa-apa, pengalaman terakhir saya menjalin pertemanan yang sangat dekat di masa kuliah, membuat saya terluka dan kehilangan. Hingga detik ini, saya masih merindukan masa-masa pertemanan kami. Entah dia.
Sejak pertemanan yang terakhir itu, saya membatasi diri untuk tidak dekat dengan satu orang pun. Saya pun menclak menclok dari satu orang ke orang yang lainnya. Kalau mereka merasa dekat dengan saya, Alhamdulillah. Tidak pun, buat saya tidak masalah. Saya sendiri ? Meski merasa dekat, namun tidak mau membuka diri terlalu jauh.
Namun, itu semua terbalik sejak sebulan lalu. Betapa saya merasa bahwa teman-teman itu adalah salah satu kekuatan bagi kita, dalam menjalani kehidupan ini. Saya merasa bersyukur punya teman, tempat dimana saya bisa berbagi cerita dan mendengarkan segala keluh kesah.
Teman-teman yang memberi kekuatan bagi saya dalam menghadapi cobaan dalam pekerjaan. Teman-teman yang membuat saya tertawa lewat conference YM (hayo...ngaku siapa yang sering chatting dengan saya...he...he...), disaat deraan masalah yang bertubi-tubi. Teman-teman yang ikut berdoa buat kebaikan saya, lewat email dan sms.
Saya pun jadi teringat lagu That's What Friends Are For. Ini saya kutipkan lirik lagu tersebut, buat seluruh teman-teman tercinta.


And I never thought I'd feel this way
And as far as I'm concerned
I'm glad I got the chance to say
That I do believe I love you
And if I should ever go away
Well then close your eyes and try
To feel the way we do today
And then if you can remember
Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me, for sure
That's what friends are for
For good times and bad times
I'll be on your side forever more
That's what friends are for
Well you came in loving me
And now there's so much more I see
And so by the way I thank you
Oh and then for the times when we're apart
Well then close your eyes and know
The words are coming from my heart
And then if you can remember


ps : buat teman-teman sorry, belum bisa blogwalking, masih ribet euy. Happy long wiken yah :)

Sunday, April 29, 2007

Anak Dulu vs Anak Sekarang


Beberapa hari disibukkan dengan kedatangan bintang drama Korea ke Indonesia, Lee Dong Wook (Pemeran Utama Pria di Drama Korea, My Girl) yang diundang oleh tempat saya bekerja, membuat saya teringat akan kenangan masa remaja dulu.

Anak perempuan sekarang (sebagian besar adalah gadis SMP, SMA, kuliah dan ada juga yang sudah bekerja) yang saya temui saat mengambil tiket nonton gratis tapping "rendevous with Lee Dong Wook" itu, membuat saya terpikir apa masa remaja saya "segila" mereka. Kenapa saya bilang "segila", karena mereka rela "nongkrong" berjam-jam didepan komputer atau laptop, supaya dapat tiket gratis melalui kuis.

Rela berpanas-panasan didepan gerbang kantor Indosiar di Daan Mogot, padahal tiket tersebut tidak bisa diperoleh disana. Rela mengeluarkan uang senilai Rp 120 ribu demi bisa makan bareng dengan sang aktor idola. Padahal nilai sebesar itu, menurut saya, cukup besar untuk dihabiskan sehari.

Mata saya semakin terbelalak, saat mereka menceritakan bahwa "saking" suka, bisa dibilang cinta mungkin, dengan aktor-aktor Korea, ada yang pergi mengunjungi Korea atau negara Asia, dimana sang aktor pujaan itu sedang mengadakan kunjungan atau promo tour, untuk bertemu sang pujaan. Tak sedikit juga yang mengumpulkan pernak pernik, yang berhubungan dengan sang aktor.

Dulu, rasanya saya tidak seheboh mereka. Apa mungkin karena stasiun TV saat itu cuma TVRI yah. Baru merasakan adanya stasiun televisi swasta, di tahun 90-an, itu juga sudah mau tamat SMA. Tontonan saat itu yang paling bagus adalah Little House on The Praire. Meningkat sedikit si Unyil dan Telenova Isaura. Ada yang ingat tidak ?

Sekarang ? Stasiun TV ada 12, nyaris seluruh stasiun TV menyiarkan sinetron dan drama. Yang jelas drama Asia, dikuasai Indosiar. Bertabur wajah-wajah cantik dan ganteng. Dengan tema cerita yang nyaris sama dan tak sedikit yang menjiplak drama Asia.

Kalau sekarang anak-anak remaja, lebih suka main HP, chatting, dan ngemall. Anak dulu ? Paling tinggi mainnya di Melawai, Apotik Karya, Bulungan, ini untuk anak Jakarta lho. Wah serasa "elite" main disana. Belum ada HP, jadi mainannya telepon.

Jangan heran, kalau di tahun 80-an, penggunaan telepon umum didominasi anak remaja. Meningkat di era 90-an, pager. Tapi agak riskan juga nih punya pager. Soalnya kalau anak kuliahan punya pager, apalagi perempuan, bisa-bisa dianggap "ayam kampus", yang simatupang (siang malam tunggu panggilan).

Soal bacaan ? Anak dulu bangga sekali berlangganan Majalah Gadis. Rela menabung uang jajan buat beli Majalah Khusus Cerpen Anita Cemerlang atau Majalah HAI. Kalau dari pengarang luar negeri, yah Tintin, Asterix, Lima Sekawan, Trio Detektif, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, The Secret Seven dan Pippi si Kaos Kaki Panjang.

Kalau sekarang ? Semoga saja salah yah. Sepertinya mereka lebih suka mengikuti pemilihan jadi fotomodel sampul majalah-majalah terkenal, yang lebih didominasi dengan majalah franchise dari luar negeri. Kira-kira ada yang mau ngak yah menerbitkan Majalah Anita Cemerlang lagi ?

Dulu, tampil di acara Cerdas Cermat, Ayo Bernyanyi Bersama Bu Fat, atau ikutan Lomba Penulisan Ilmiah LIPI, serasa mendapat durian runtuh. Orang tua juga tidak kalah heboh. Belum juga ditayangkan di TV, sudah woro-woro ke seluruh keluarga besar.

Sekarang, orang tua sepertinya lebih senang anaknya jadi gadis sampul, artis, penyanyi dan bintang iklan. Kalau dulu, saya tertabrak motor karena baca buku sambil jalan. Keponakan saya ? keserempet motor karena asyik sms-smsan, sambil jalan. Perbedaan-perbedaan itu membuat saya semakin merasa tua, padahal usia 40, yang katanya hidup dimulai saat umur 40, masih beberapa tahun lagi. Atau sebesar itu pengaruh globalisasi dan teknologi, sehingga membuat anak-anak sekarang sudah semakin canggih ?

Foto diambil dari www.dramasia.com

Friday, April 06, 2007

Nikmatnya Cuti

Bisa tidur berkali-kali:))
Yup, betul. Nih agendanya : bangun tetep sih pukul 04 pagi. Abis, beberes semuanya seperti urusan kak Lily sekolah, mandiin Kayla, si ayah berangkat kerja, trus membersihkan rumah, kira-kira sekitar pukul 8.30, mata mulai kriyep-kriyep seperti ayam yang lagi sakit mata. Ngantuk... ngak sadar waktu nemenin Kayla main, ketiduran dilantai. Itu sessi pertama.

Sessi kedua, waktu nidurin Kayla, sekitar pukul 12.00. Kayla tidur, saya pun ikut tertidur dengan suksesnya. Di tidur kedua ini adalah yang paling nikmat. Kalau kak Lily, ikut tidur siang, maka bisa bangun sekitar jam 3 sore. Dan kalau ngak tau malu, ada sessi tengah, yaitu waktu sambil nonton acara berita Seputar Indonesia atau Liputan 6 Petang, sekitar pukul 17.30. Tidur2 ayam sih, cuma lumayanlah menghilangkan ngantuk.

Nah, sessi ketiga itu, biasanya sekitar pukul 8 malam, abis sholat Isya. Dengan alasan mau rebahan sebentar, yang ada malah ketiduran..he...he.. Oh nikmatnya dunia, bisa merasakan tidur yang sebulan belum tentu sekali bisa tidur siang, kalau hari-hari dipenuhi dengan rutinitas kerja.

Oh yah, buat temen-temen (Dewi dan Yanti...he...he..) yang mempertanyakan hari ke-7, akankah bosan. Lumayan ngak, karena Jumat libur kan ? Jadi bisa jalan-jalan bareng keluarga. Mungkin kalau benar-benar 7 hari, bisa jadi bosan...he...he...

Cuti kali ini, saya tidak kemana-mana alias dirumah saja. Eh, hari Senin (3/4) sempet pergi sih kerumah Mbak Endah "Perca" Sulwesi, di Klender, yang tidak terlalu jauh dari rumah (sekitar 30 menit), tapi selebihnya dirumah saja menikmati tidur. Btw, tanya donk, ada yang pengalaman pakai speedy ngak ? Secara kok dirumahku lemot yah :(

Thursday, March 22, 2007

Juara Penulis


Anak adalah harta yang tak ternilai bagi orang tuanya. Anak pun selalu menjadi kebanggaan ayah dan ibunya. Jadi jangan heran dan mengatakan orang tua sombong, jika ada orang tua yang kerap menceritakan tentang anak-anaknya. Harap maklum kalau kesannya pun menjadi narsis.


Dan kali ini, saya pun tak bermaksud narsis, hanya ingin bercerita tentang keharuan sekaligus rasa malu, atas apa yang dilakukan kak Lily.

Ini berhubungan dengan mata pelajaran PKPS (Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Sosial). Salah satu babnya mengajarkan tentang Keluarga. Dalam pelajaran Keluarga itu, setiap murid harus mendeskripsikan (benar ngak tulisannya seperti itu ?) apa dan bagaimana orang tuanya, adik, kakak, serta kakek - nenek.

Entah bagaimana Lily menjelaskannya didepan kelas, yang jelas saat saya membaca tulisannya di buku catatannya, tiba-tiba saya merasa terharu, hingga air mata nyaris menggantung di ujung mata. Plus sedikit rasa malu.

Begini tulisannya :

Aku anak pintar

Aku rajin belajar

Inaku penulis

Inaku juara penulis

Inaku kerja di indosiar

Ayahku karyawan

Ayahku kerja di darmais

Langsung saya memanggil Lily, dan bertanya :

"Ini kakak bacain didepan kelas yah ?"
"Iya".
"Kok kakak bikin Ina penulis?"
"Yah kan, Ina ngak bisa masak. Ina sukanya ngumpulin resep. Masa, aku bikin Ina pinter masak."
Duh, serasa tertonjok.

"Kan aku seneng Ina penulis. Cuma aku sendiri yang mamanya penulis, semuanya mamanya pinter masak."
Dua kali tertonjok.

"Bener kakak seneng Ina jadi penulis?"
"Iyalah. Biar aku jadi penulis juga. Biarin aja Mbak Iyah yang masak."

Tak terasa, airmata yang tadi susah payah ditahan, akhirnya turun juga.

Saya tahu Lily mempunyai pemikiran seperti itu, karena hampir tiap hari dilihatnya saya menulis. Baik di komputer maupun di buku catatan. Sementara soal masak memasak lebih banyak saya serahkan sama asisten dirumah, Mbak Iyah.
Bukannya tidak ada keinginan untuk memasak, tapi dari pada rasanya ngak keruan, lebih baik diserahkan saja pada pakarnya. Cuma kalau urusan mengatur menu dan memberi ide untuk bikin makanan apa untuk cemilan, saya masih mampu :)

Lagi pula, karena anak-anak dan suami tidak pernah menuntut saya untuk memasak, maka bisa dibilang, masak memasak dalam sebulan paling cuma sekali. Itu juga masak sayur asem dan goreng ikan :)
Duh jangan dicontoh deh model ibu seperti saya.
Dari kejadian diatas, saya merasa apapun saya, anak-anak tetap bangga. Saya pun bertekad untuk menjadi apa diri saya, tetapi saya juga bertekad untuk sedikit bisa memasak, minimal biar ngak malu-maluin. Untuk Lily, terima kasih yah nak, sudah bangga punya ibu seperti Ina.

Friday, January 05, 2007

Di Transjakarta

Sudah dua hari ini, gw melihat dua ibu yang membawa dua anaknya naik Transjakarta jurusan Pulogadung - Harmoni. Pertama, seorang ibu yang membawa anak sekitar 4 atau 3 tahun dan 1 tahun, yang masih menyusui. Kedua, seorang ibu yang membawa anaknya yang berumur sekitar 2 tahun dan satu tahun.

Kalau ibu yang pertama, gw perhatiin sepertinya sudah mandi. Ibu yang kedua, yang jelas belum membasuh mukanya terutama muka anak-anaknya, karena anaknya yang paling besar masih ada sisa-sisa air liur di pipinya :D

Sebenarnya ngak terlalu menarik, kalau saja ibu-ibu itu layaknya orang yang bekerja atau akan mengantar anaknya ke sekolah. Tapi berhubungan ibu-ibu itu, pakaiannya biasa-biasa saja (satu pakai daster, satunya lagi pakai celana pendek dengan atasannya kaos), gw jadi perhatiin mereka.

Gw jadi berpikir, mau ngapain yah mereka pagi-pagi itu ? Kan kasihan anak-anak diajak pergi (naik bis lagi) pagi sekali (belum ada pukul 6). Anak gw aja waktu ditinggalin berangkat kerja masih tidur dengan lelapnya.

Bukan buruk sangka, tapi apa mereka ini yang akan menjalankan "tugas" sebagai pengemis di lampu-lampu merah ? Mudah-mudahan saja, anak-anak itu ikut ibunya untuk bekerja yang benar (di pabrik, misalnya) atau menjaga warung, menggantikan bapaknya.

Thursday, January 04, 2007

Pikiran Ngak Penting :)

Diawal Januari ini, gw masuk pagi (pukul 6 - 14). Saking paginya gw berangkat dari rumah habis sholat subuh, barengan ama tukang sayur yang mau ke pasar dan sopir angkot yang baru mau narik angkot...he...he...

Gw pikir, cuma gw doank, yang pagi-pagi buta (orang di masjid aja masih baca Qur'an), berangkat kerja, ternyata banyak perempuan yang juga mesti berangkat pagi-pagi, meninggalkan buah hatinya masih terlelap tidur.

Salut buat perempuan-perempuan yang menurut gw perkasa itu. Gimana ngak, sudah berangkat pagi, mereka musti ngejar-ngejar angkot atau bus. Sementara gw lebih beruntung karena dianter sampai terminal Pulogadung oleh Mas Iwan, yang meski masih ngantuk rela memelekkan mata demi istri tercinta (halah) supaya ngak naik angkot.

Perempuan-perempuan itu, seperti halnya gw juga sebenarnya ngak rela berangkat kerja tanpa lambaian tangan dan kerjab ceria mata buah hati tercinta. Tapi apa mau dikata, sulit rasanya mencari jam-jam tidak macet dan sibuk di wilayah Jakarta, Bekasi, Depok dan sekitarnya. Semakin siang kita berangkat, dijamin semakin pasti kita akan terjebak kemacetan dan berarti alamat datang ke kantor telat, plus kalau keseringan siap-siap terima SP :)

Rasanya hal itu merupakan dilema yang ngak ada habis-habis. Jakarta dan Bekasi tetap macet, meski jalur busway sudah ditambah. Dan perempuan-perempuan itu termasuk gw, akan tetap berangkat di pagi buta, sampai waktu memutuskan perempuan itu tidak bekerja lagi.

Saturday, December 30, 2006

Itu Sudah !



Bagi saya, introspeksi, refleksi atau apalah namanya, harus dilakukan setiap hari, setiap waktu selama hayat masih dikandung badan. Cuma karena lagi ngikutin trend ngeblog tentang akhir tahun, bikin deh catatan akhir tahun.*halah*

Tahun 2006, suka duka silih berganti datang dalam kehidupan kami. Kak Lily yang memasuki dunia sekolah baru (SD), de Kayla yang semakin bertambah kecerewetannya, Mas Iwan aka Ayah, yang bertambah beban pekerjaannya, dan saya sendiri, yang begini-begini saja, masih tetap gemuk (dari 5 tahun, selalu bertekad menguruskan badan tetapi selalu gatot ---- gagal total), masih betah kerja di Indosiar (meski ngak ada perkembangan baru selama tiga tahun ini, tapi patut disyukuri masih bisa terima gaji dengan jelas...he....he....) , masih berusaha berpikir positif (sumpah ini susah banget!), berusaha dengan keras mensyukuri apa yang telah diterima, bertekad baja menyelesaikan pekerjaan yang sudah lama diidam-idamkan, tetapi ngak selesai-selesai karena keasyikan baca dan nonton...he...he...

Dikeluarga besar saya, ada yang akan memasuki gerbang kehidupan berumah tangga, ada yang terpaksa harus memutus tali merah pernikahan karena menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT ---- rasanya seperti di sinetron saja, tapi memang begitulah kenyataannya. Dari pada nyawa melayang, lebih baik menghindar sebelum terlanjur. Sedih memang, tapi hidup harus tetap berlanjut kan !)

Hidup memang penuh misteri. Kita yang berencana, Tuhan juga penentunya. Tiada yang sempurna didunia ini, karena kesempurnaan itu hanya milik Sang Pencipta. Kita harus mensyukuri setiap detik yang telah Tuhan berikan. Tiada hari yang tak baik, tak ada tahun yang buruk, semua sama, tinggal bagaimana kita menjalani hari-hari tersebut. Selamat tahun baru, semoga Tuhan selalu memberkati kita semua.