Gak terasa umur de' Kayla sudah 20 bulan, 4 bulan lagi bakal dua tahun. Diusianya yang sekarang, de' Kayla makin bertambah aja kepintaran. Jadi Ibu gak perlu khawatir seperti dulu lagi. Sekarang ini kepintaran, nyetel DVD sendiri. Pokoknya dari pagi sampai malam mau tidur, televisi dikuasai de' Kayla tanpa siapa pun bisa menggugatnya. Apalagi sejak dapat VCD Dera dan teman-teman, hadiah dari susu Bendera, terus aja itu CD dipasang, sampai Ibu rasa kalau tuh CD dan player bisa ngomong, pasti udah minta istirahat...he....he...Mbak Iyah sampai bilang gini : de Ela, gantian dong. Sekali-sekali mbak nonton TV. Yang rusuhnya nih, kalau kak Lily pas gak cocok sama keinginan de' Kayla. Bisa-bisa terjadi perang dunia ketiga. Yang satu mau nonton Dora, yang satu mau nonton Dera dan teman-teman. Trus ntar entah siapa yang mulai, ada yang mulai mukul, atau gak nyubit, trus nangis kenceng deh. Tinggal yang mendengarnya harus punya hati dan kesabaran seluas samudera. Cuma kalau lagi akur nih, de' Kayla suka diajak kak Lily main bareng, seperti ini :
Oh yah, karena sudah menjelang dua tahun ini, Ibu lagi mempersiapkan de' Kayla untuk disapih. Sampai sekarang de' Kayla memang masih mimik ASI. Gak seharian penuh sih, kalau Ibu ngantor, mimik ASInya malam hari. Kalau lagi dirumah, bobo siang dan malam hari. Tadinya pas umur 17 bulan mau disapih karena ASInya udah gak begitu banyak lagi. Waktu itu iseng aja, pengen liat reaksi de' Kayla, jadi mimiknya ditempelin sama tensoplas. Pas mau mimik, de' Kayla heran. Tapi dia tetep berusaha mau mimik. Mulutnya tetap disodorin, tapi trus ditarik karena mungkin ngerasain gak enak. Gak patah semangat, tuh tensoplas mau dikopek-kopek, sampai akhirnya Ibu yang kesakitan sendiri. Sejak itu udah gak mau coba-coba lagi :) Cuma kalau sekarang udah bertekad bisa menyapih, karena de' Kayla udah cukup umur untuk ngak mimik ASI dan kantor Ibu udah mulai tanya-tanya kapan bisa tugas kantor lagi. Mudah-mudahan proses menyapihnya nanti gak terlalu susah.
De Kayla lagi suka dibacain cerita Si Tudung Merah. Pasti banyak deh yang tau tentang dongeng Si Tudung Merah ini, yang merupakan salah satu dari empat cerita dari Dunia Grimm, karya si Raja Dongeng Hans Christian Andersen . Dari jaman Ibu dan Ayah masih kecil, udah diceritain dongeng ini, kebayangkan tuanya tuh cerita :)Dari rumah aja, buku dongeng ini merupakan warisan dari Kak Ririn (anak adik Ibu), yang sekarang sudah kelas satu SMA. De Kayla sih belum ngerti, Ibu lihat dia sepertinya senang dengan gambarnya dan mungkin karena sering melihat Kak Lily dibacain cerita ini, jadi suka bawa-bawa tuh buku : "ca..aca.. nih," katanya sambil nunjuk-nunjuk gambar Si Tudung Merah. Ibu sih seneng-seneng aja ngebacain apalagi karena de' Kayla belum ngerti kalau Ibu bacainnya suka lompat-lompat biar cepet selesai... he....he... Cuma kak Lily, yang udah tau dan bisa baca suka protes : "Bu, ceritanya gak gitu lagi. Kok Si Tudung Merahnya yang metik bunga gak ada bacaannya," kata Lily. Ternyata kak Lily gak mau adiknya dibohongin :)Oh yah, kesimpulan dari dongeng Si Tudung Merah dan sering Ibu kasih tau sama kak Lily : Setiap Ayah dan Ibu kasih tau, harus dipatuhi dan gak boleh dilanggar. Kalau dah ngomong gitu, kak Lily sih manggut-manggut aja, karena kadang masih suka ngeyel juga :)
Setelah dua kali gagal bertemu (rencana pertama disaat lebaran tahun 2005 dan bulan Juli 2006), akhirnya saat liburan di Yogya kemarin, kami bertemu dengan Tante Rhien dan Farrel, yang selama ini tinggal di Qatar dan sedang berada di Yogyakarta hingga pertengahan Nopember 2006.
Rencananya hari Sabtu pagi, 19 Agustus, kami mau main kerumah Tante Rhien di Gedongkiwo, MJ 1/840, deket Stikes/Akafarma. Tapi karena Tante Rhien, lagi membantu adiknya yang baru melahirkan, rencana pun berganti menjadi sore. Hampir saja batal, karena de' Kayla ngantuk dan pengen tidur. Sementara kak Lily sudah gak sabaran pengen kenal sama Tante Rhiend an Farrel.
Setengah lima sore, kami pergi kerumah Tante Rhien. Gak terlalu susah mencarinya, cuma jaraknya dari rumah Mbah Putri di Jetis kerumah Tante Rhien, lumayan jauh :) Oh yah, rumah Tante Rhien yang kami datangi itu kontrakan. Karena rumah Tante Rhien yang asli di Jalan Kesumanegara. Waktu terjadi gempa, Tante Rhien kasih kabar, rumahnya di Kesumanegara jadi korban gempa juga dan banyak yang harus dibenahi. Selain itu karena bapaknya Tante Rhien sedang sakit, maka perlu tempat yang lebih tenang.
Waktu dirumah Tante Rhien, kak Lily berkenalan dengan Farrel, yang diam aja. Sepertinya Mas Farrel bingung melihat kak Lily dan de' Kayla yang gak bisa diam :) de' Kayla sibuk mondar mandir, keluar masuk rumah. Untung ada Ayah yang temani de' Kayla, jadi Ibu bebas ngobrol sama Tante Rhien.Tapi lagi enak-enak ngobrol dan mencicipi kue bolu gulung buatan Tante Rhien, kak Lily tiba-tiba ngajak pulang karena dia pengen ke Pasar Malam Festival Merti Code 2006. Gak bisa diminta sabar, akhirnya kami pamit pulang. Sebelum pulang kami sempat foto-fotoan dulu. Maklum semuanya banci tampil, yang ingin mejengin fotonya di blog masing-masing...he....he..he...Sayang beberapa foto yang diambil Ayah, hasilnya goyang begitu juga foto yang di kamera Tante Rhien. Jadi yang berhasil cuma satu. Diakhir perbincangan, kita janjian lagi mudah-mudahan bisa ketemuan dilain waktu, karena Tante Rhien ada rencana mau ke Jakarta, hari kedua Lebaran nanti. Oh ya, kak Lily sepulang dari rumah Tante Rhien sempat ke pasar malam. Dan hari minggunya, kami melihat atraksi pawai penutupan Festival Merti Code 2006. 