Jangan Lupa Besok PIN Polio
Rabu, 30 November 2005, Pekan Imunisasi Polio (PIN) tahap ketiga akan dilaksanakan serentak. Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari menyatakan jika program imunisasi berhasil, Indonesia akan terbebas polio setelah Maret 2006.
Jumlah yang harus diimunisasi sebanyak 23,6 juta balita dan tersebar di 440 kabupaten dan kota. Pemerintah telah menyediakan 32,8 juta dosis untuk dibagikan kepada 281.929 pos PIN.
Dana untuk imunisasi polio tahap ketiga sebesar Rp 110,3 miliar, yang sebagian besar berasal dari bantuan WHO dan UNICEF. Setelah PIN tahap ketiga, imunisasi polio tinggal dilaksanakan sekali lagi yaitu Maret 2006.
Insya Allah dede Kayla, mau ikut lagi imunisas. Ingat Polio, teringat makalah yang dikirim dr. Widodo Judarwanto SpA, tentang Permasalahan Imunisasi Polio, yang isinya seperti ini :
Infeksi polio terjadi di seluruh dunia, di Amerika Serikat tranmisi virus polio liar berhenti sekitar tahun 1979. Di negara-negara barat, eliminasi polio sejak tahun 1991. Program eradikasi Polio Global dapat menurunkan secara dramatis angka kejadian polio liar diseluruh belahan dunia, kecuali India, Timur Tengah dan Afrika. Di Indonesia tampaknya masyarakat dibuat panik dengan timbulnya kasus polio yang sudah hampir 10 tahun tidak pernah dilaporkan.
Penyebab penyakit ini adalah virus Polio yang terdiri dari 3 strain yaitu strain 1 (brunhilde), strain 2 (Lanzig) dan strain 3 (Leon). Strain 1 seperti yang ditemukan di Sukabumi adalah yang paling paralitogenik atau paling ganas dan seringkali menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Virus Polio termasuk genus Enteroviorus, famili Picornavirus. Penularan terutama terjadi penularan langsung dari manusia ke manusia melalui fekal-oral (dari tinja ke mulut) atau yang agak jarang lainnya melalui oral-oral (dari mulut ke mulut). Tampaknya pencegahan terbaik penularan penyakit ini adalah dengan melakukan Imunisasi Polio.
Rekomendasi Vaksinasi Polio
Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Departemen kesehatan mengeluarkan rekomendasi pemberian Polio termasuk imunisasi yang diwajibkan atau masuk Pengembangan Program Imunisasi (PPI). Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai dengan rekomandasi WHO adalah diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Kemudian diulang usia 1½ tahun, 5 tahun dan usia 15 tahun atau sebelum meninggalkan sekolah.
Dalam keadaan adanya Kejadian Luar biasa Polio, maka dilakukan Mopping Up. Artinya, strategi untuk memberikan ulangan Polio pada semua anak di bawah usia 5 tahun di daerah tersebut meskipun imunisasi sebelumnya telah lengkap. Vaksin polio terdiri dari 2 jenis , yaitu Vaksin Virus Polio Oral (Oral Polio Vaccine=OPV) dan Vaksin Polio Inactivated (Inactived Poliomielitis Vaccine).
- Oral Polio Vaccine (OPV)
Jenis vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV) ini paling sering dipakai di Indonesia. Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut. Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan. Komposisi vaksin tersebut terdiri dari virus Polio tipe 1, 2 dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated).
Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. Tiap dosis sebanyak 2 tetes mengandung virus tipe 1, tipe 2, dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak lebih dari 2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg.
Virus dalam vaksin ini setelah diberikan 2 tetes akan menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar lapisan usus yang mengakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang akan masuk.
Pemberian Air susu ibu tidak berpengaruh pada respon antibodi terhadap OPV dan imunisasi tidak boleh ditunda karena hal ini. Setelah diberikan dosis pertama dapat terlindungi secara cepat, sedangkan pada dosis berikutnya akan memberikan perlindungan jangka panjang.
Virus polio ini dapat bertahan di tinja hingga 6 minggu setelah pemberian vaksin melalui mulut. Anak yang telah mendapatkan imunisasi OPV dapat memberikan pengeluaran virus vaksin selama 6 minggu dan akan melakukan infeksi pada kontak yang belum diimunisasi. Untuk orang yang berhubungan (kontak) dengan bayi yang baru di imunisasi harus menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.
Sehingga bila ada seorang kontak di rumah yang dalam keadaan kondisi tubuh sedang turun, seperti pengobatan kortikosteroid (imunosupresan) atau pengobatan radiasi umum, penyakit kanker atau keganasan yang berhubungan dengan sistem retikuloendotelial (seperti limpoma, leucemia, penyakit hodgkin), anak dengan mekanisme imunologik terganggu misalnya hipogamaglobulinemia dan penderita infeksi HIV atau AIDS, sebaiknya menghindar dari bayi atau anak yang divaksinasi polio paling tidak selama 6 minggu sesudahnya.
Anggota keluarga yang belum pernah diimunisasi polio atau belum lengkap imunisasinya dan mendapat kontak dengan anak yang mendapat vaksin OPV, sebaiknya harus ditawarkan imunisasi dasar OPV pada waktu yang bersamaan dengan anak tersebut.
- Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV)
Di Indonesia, meskipun sudah tersedia tetapi Vaksin Polio Inactivated atau Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) belum banyak digunakan. IPV dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan, kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia. Karena IPV tidak hidup dan tidak dapat replikasi maka vaksin ini tidak dapat menyebabkan penyakit polio walaupun diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh yang lemah. Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi tipe 1,2,3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid.
Selain itu dalam jumlah sedikit terdapat neomisin, streptomisin dan polimiksin B. IPV harus disimpan pada suhu 2 – 8 C dan tidak boleh dibekukan. Pemberian vaksin tersebut dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0,5 ml diberikan dalam 4 kali berturut-turut dalam jarak 2 bulan.
Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan OPV maka dapat menggunakan IPV. Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV.
Sejak tahun 1997 American Academy of Pediatric (AAP) dan Centers For Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan pemberian IPV untuk vaksinasi rutin pada semua bayi di Amerika Serikat. Sejak itu dilaporkan Kejadian Ikutan Paska Imunsasi Polio sangat menurun.
Kejadian Ikutan Paska Imunisasi
Pada umumnya reaksi terhadap vaksin dapat berupa reaksi simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi simpang vaksin antara lain berupa efek farmakologi, efek samping, interaksi obat, intoleransi, reaksi idiosinkrasi dan reaksi alergi. Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena kesalahan tehnik pembuatan, pengadaan dan distribusi vaksin, kesalahan prosedur, tehnik pelaksanaan dan faktor kebetulan.
Kejadian ikutan paska imunisasi adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Kejadian ikutan paska imunisasi Polio memang jarang ditemukan. Setelah pemberian vaksinasi OPV sebagian kecil penerima akan mengalami gejala pusing-pusing, diare ringan dan sakit pada otot.
Lebih jarang lagi, diperkirakan setiap 2,5 dosis OPV yang diberikan dapat mengalami kasus Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis atau VAPP). VAPP merupakan kejadian lumpuh layu akut (AFP) 4 – 40 hari setelah diberikan vaksin OPV dengan sekuele neurologis susulan yang mirip dengan polio setelah 60 hari.
Sementara itu, kasus VAPP kontak terjadi ketika virus yang berasal dari vaksin OPV (VDPV) diekskresikan dan menyebar kepada anak-anak yang tidak diimunisasi atau anak-anak yang belum menerima OPV secara lengkap.
Wabah VAPP di Mesir, Filipina, Republik Dominika, Haiti dan Madagaskar yang dihubungkan dengan sirkulasi VDPV yang telah berubah bentuk menjadi neurovirulen yang disebabkan karena perubahan genetik atau rekombinasi dengan enterovirus non-polio. Di Thailand, strain VDPV yang diisolasi dari kultur tinja ditemukan pada 3 dari 15 kasus AFP yang dilaporkan selama 5 tahun terakhir dengan 1 – 5 kasus lumpuh neurologis menetap yang terjadi 60 hari setelah pemberian OPV. Namun, VAPP yang disebabkan OPV jarang terjadi pada daerah dengan cakupan imunisasi lebih dari 90 % dan tingkat imunitas kelompok yang tinggi.
Menurut laporan Vaccine Safety Committee, Division of Health Promotion and Disease Prevention, Institute Medicine National Academy of Science USA, tahun 1994 terdapat bukti memperkuat penerimaan hubungan kausal bahwa OPV dapat menyebabkan Sindrom Guillain Barre (GBS). Demikian juga di Turki pada tahun 2003 pernah dilaporkan 5 penderita GBS setelah pemberian vaksinasi OPV. Penyakit GBS adalah penyakit yang menyerang kelumpuhan kaki dan otot pernapasan manusia, dimana penyebabnya masih belum diketahui secara jelas. Secara teoritis vaksin hidup seperti OPV dapat berubah menjadi bentuk patogenik.
Resiko paling sering terjadi pada pemberian dosis pertama dibandingkan dosis berikutnya. Resiko yang relatif sangat jarang tersebut memang tidak boleh diremehkan, namun bukan menjadi alasan untuk menghindari pemberian vaksinasi OPV karena pemberiannya terbukti sangat berguna untuk menghindari penyakit polio dan menurunkan kasus polio di dunia. Untuk mengurangi kejadian ikutan paska imunisasi maka sebaiknya harus memperhatikan secara cermat kondisi kesehatan penerima imunisasi.
Kejadian ikutan pada janin belum pernah dilaporkan, namun OPV jangan diberikan pada ibu hamil 4 bulan pertama kecuali terdapat alasan mendesak misalnya bepergian ke daerah endemis poliomielitis. Vaksin polio oral dapat diberikan bersama-sama dengan vaksin inactivated dan virus hidup lainnya, tetapi tidak boleh diberikan bersama vaksin tifoid oral. Bila BCG diberikan pada bayi, tidak perlu memperlambat pemberian OPV, karena OPV memacu imunitas lokal dan pembentukan antibodi dengan cara replikasi dalam usus.
Di dalam vaksin polio OPV dan IPV mengandung sejumlah kecil antibiotik (neomisin, polimisin, streptomisin) namun hal ini tidak merupakan kontra indikasi kecuali pada anak yang mempunyai bakat hipersensitif yang berlebihan.
Tampaknya dengan era globalisasi dimana mobilitas penduduk dunia antar negara yang sangat tinggi dan cepat mengakibatkan kesulitan dalam mengendalikan penyebaran virus ini. Selain pencegahan dengan imunisasi polio, harus disertai dengan peningkatan sanitasi lingkungan dan higiena sanitasi perorangan untuk mengurangi penyebaran virus yang kembali mengkawatirkan ini.
- Keadaan yang tidak boleh divaksinasi OPV :
1. Penyakit akut atau demam (suhu lebih 38,5 C)
2. Muntah atau diare
3. Sedang menerima pengobatan kortikosteroid (imunosupresan) dan pengobatan radiasi umum (termasuk kontak penerima)
4. Penyakit kanker atau keganasan (termasuk kontak penerima) yang berhubungan dengan sistem retikuloendotelial (seperti limpoma, leucemia, penyakit hodgkin) dan anak dengan mekanisme imunologik yang terganggu misalnya hipogamaglobulinemia.
5. Penderita infeksi HIV atau AIDS (termasuk kontak penerima)
]
Menurut Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan Committees on Infectious Diseases of the American Academy of Pediatric (AAP).(dr Widodo J SpA)
ps : Tante Dinny, batuk dan Asmanya menyusul yah... panjang sekali euy :)
Wednesday, November 30, 2005
Tuesday, November 29, 2005

Menumbuhkan Minat Baca pada Anak
Di Harian Kompas Minggu, 27 Nopember 2005, ada advertorial yang mengulas tentang menumbuhkan minat baca pada anak. Disebutkan bahwa masyarakat (dari berbagai kalangan) masih belum memahami benar pentingnya membaca.
Padahal melalui buku, seseorang dapat memperkaya wawasan, memperluas cakrawala berpikir, mengasah daya imajinasi, menambah kosa kata baru, ataupun mengetahui tempat-tempat di belahan dunia lain yang belum pernah dikunjungi.
Menumbuhkan minat membaca pada anak harus dimulai sejak dini namun tidak bisa dipaksakan begitu saja. Membutuhkan proses yang cukup panjang dan berbeda-beda pada setiap anak. Untuk memulai, bisa dengan memberikan buku cerita bergambar, penuh dengan warna sambil kita membantunya untuk mengenali huruf dan warna.
Semakin besar usia anak, buatlah jadwal rutin untuk membeli buku bersama, misalnya setiap anak mendapat prestasi disekolah. Walau anak sudah dapat membaca sendiri, tak ada salahnya jika sesekali kita mendampinginya atau membaca buku bersama-sama.
Seperti orang bilang, anak selalu meniru apa yang orang tuanya lakuka. Atau anak merupakan cermin orang tua. Jadi jika kita mencintai buku, sering membaca buku, maka anak akan mencontoh dan tak terlalu sulit mengajaknya mencintai buku.
Ketahuilah kesukaannya sehingga kita dapat memberikan buku-buku kesukaannya. Dari hal-hal yang sederhana, lama kelamaan akan tumbuh sendiri rasa ingin tahu yang lebih besar sehingga mereka pun mencari buku dengan tema lain.
Disalah satu milis yang Ibu ikuti, disebutkan juga untuk menumbuhkan minat baca anak adalah berawal dari orang tua. Kalau orangtuanya suka baca, kemungkinan besar anaknya suka membaca. Ada juga tipsnya lho seperti :
1. Bacakan buku untuk anak setiap hari (jadikan kebiasaan).
2. Usahakan buku mudah dilihat dan dijangkau oleh anak
3. Ajak anak ke tempat yang ada di buku
4. Bacakan dengan ekspresi
5. Lakukan dengan kegiatan mendongeng.
6. Perkenalkan anak pada bacaan-bacaan yg ada di sekitar kita
7. Beri kesempatan mengarang
8. Libatkan seluruh anggota keluarga
9. Ajak anak bereksperimen
10. Mulai dengan orangtua membaca
11. Hargai buku, berikan sebagai hadiah
12. Lakukan dengan gembira
Alhamdulillah, Lily (5,4 tahun) sekarang udah bisa baca. Walaupun belum lancar, karena kalau kata yang terdiri dari lima atau enam suku kata seperti Menumbuhkan, dia kadang suka lupa baca suku kata akhir, jadi hanya dibaca Menumkan atau kalau baca Matahari, Lily bacanya Matari.
Sama kalimat yang ada kata Ng, nah itu suka bablas bacanya. Misalnya : Mengajak, kadang Lily baca men-ajak. Tapi lumayanlah, setidaknya sekarang ini Ibunya udah gak usah terlalu cape bacain buku cerita, yang kadang-kadang selama satu bulan bisa satu buku aja dibaca, sampai Ibu hapal isi ceritanya...he....he...
Meski Lily suka ikutan baca kalau dilihat Ayah - Ibunya baca, tapi belum tahu apa dia berminat baca buku atau tidak. Yang jelas nih, Ibu suka tanya ceritanya lagi sama Lily kalau dia lagi baca buku. Meski kadang ceritanya kadang loncat-loncat gak sesuai buku, tapi dia kayaknya udah ngerti isi buku itu.
Atau kalau Ibu lagi ngetik, suka ngajak Lily. Jadi Ibu ngetik, Lily baca :) Kadang kalau lagi ngetik buat blog seperti ini dan isinya tentang dia, Lily nanya kok ada namaku sih bu ? ceritanya tentang aku yah ? Emang aku kayak gitu ?
Nah kalau sudah begitu urusannya bakal panjang :) secara ibu musti nerangin panjang lebar kenapa ibu musti ngetik tentang dia.
Friday, November 25, 2005

Kak Lily aka Kak Sarah
Sinetron Kiamat Sudah Dekat (KDS) memang T O P B G T :)
Sinetron ini gak hanya menarik perhatian penonton tivi dari kalangan awam tetapi juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Para pemainnya sampai diundang ke istana lho sama bapak presiden !
Sinetron ini sebenarnya merupakan adaptasi dari film Kiamat Sudah Dekat (kita nonton lho filmnya). Cuma kalau di film pemeran Kak Sarahnya dibintangi Ayu Pratiwi, Mama Bang Fandi diperani Chintami Atmanegara, trus Bu Endang oleh Dewi Yull, trus temannya Bang Fandi yang gendut diperanin ama Ronni Dozer, nah disinetron beda. Yang sama cuma Haji Romli, Bang Fandi dan Saprol.
Kisah-kisah dari sinetron ini gak ngada-ngada dan biar diperpanjang tapi gak kayak Tersanjung...uuups (Ibu ngeledek nih..he...he..). Ceritanya benar-benar dibikin duniawi, natural seperti yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Misalnya aja nih, rencana Kak Sarah mau nikah sama Bang Fandi, babe pengen rumahnya digedein. Ini permintaan babe secara halus supaya Kak Sarah tetep tinggal ama babe.
Ini juga terjadi lho waktu Ibu nikah sama Ayah, Ompung Guru minta supaya Ibu - Ayah gak usah ngontrak alias tetep tinggal dirumah karena alasannya sayang kamar Ibu dibiarin kosong. Tapi kan Ayah - Ibu pengen mandiri...he...he..., jadi deh ngontrak di Bukit Duri.
Akting para pemain sinetron ini seperti Babe Haji Romli (Haji Deddy Mizwar), Bang Fandi (Andre Stinky), Kak Sarah (Zaskia Mecca), Saprol (Reza), Bu Endang (Cici Tegal), Kipli (Sakurta Ginting), Papa (Anwar Fuadi), benar-benar OK'S deh.
Saking ok'snya Lily, yang gak pernah absen nonton KDS, sampai niruin gaya Kak Sarah dan pengen dipanggil kak Sarah...he...he.. Lily bilang Kak Sarah cantik. "Tapi kok Kak Sarah gak ada ibunya yah ?", tanya Lily. Ibu bilang, Kak Sarah ibunya udah meninggal. "Wah kasihan yah. cantik-cantik ibunya udah meninggal", kata Lily. Waks...apa coba maksudnya :)
Gara-gara KDS juga, Lily lagi seneng bersandiwara sendiri. Ntar nih, tiba-tiba dia di kamar sendirian. Pas diliat dia pakai jilbab, trus ngumpulin semua bonekanya, trus ngomong deh sendirian...he...he...
Atau kalau gak, abis pulang sekolah, ganti baju doank, jilbabnya tetep dipake mondar mandir sambil pake tas tangan Ibu, bergaya seperti pemain sinetron. Ampun deh.
Duh apa ibu seperti Lily yah dulu :)
Subscribe to:
Posts (Atom)